GOOGLE salah satu keajaiban Dunia



Tidak ada fenomena Internet sekuat Google. Bahkan Yahoo! pun tak dapat menyamai apa yang Google telah capai di dunia maya. Amazon, Napster, eBay, Friendster - semuanya berhasil menumbuhkan kultur tersendiri, namun Google masih lebih besar pengaruhnya. Google telah berevolusi dari sekadar alat menjadi gaya hidup yang telah mengakar di setiap pengguna internet. Google bukan saja telah meluruskan banyak jalan manusia dalam pustaka internet, tapi juga telah mendefinisi ulang jargon WWW, dari World Wild Web menjadi World Wide Web. Tidak salah saya berpendapat bahwa keajaiban dunia abad 21 adalah lahirnya Google.

Google bukanlah sekadar mesin pencari informasi, namun telah menjadi lebih penting dari jasa sejenisnya di internet. Alasannya terletak pada intuisi Google yang mampu memprediksi dan memilah kira-kira data mana yang diinginkan pengguna. Alhasil pengguna akan mendapat hal-hal yang memang diinginkannya. Ketajaman indera Google ini dikemas dalam tampilan sederhana yang mudah digunakan. Google tidak ingin penggunanya bingung dalam mengakses situsnya. Adalah standar Google bila halaman utamanya hanya terdiri dari satu kolom utama untuk diisi pengguna dan beberapa link. Rata-rata halaman utama Google terdiri dari 36 kata saja. Tidak heran bila tiap hari masyarakat dunia bisa melakukan lebih dari 200 juta pencarian di Google.

Google sendiri lahir dari keresahan para pendirinya. Tidak puas terhadap kinerja Altavista yang merupakan mesin pencari terbaik saat itu, Larry Page bersama Sergey Brin merancang model mesin pencari baru yang lebih handal sebagai proyek riset kuliah mereka di Stanford. Hipotesis mereka sederhana saja: mesin pencari akan bekerja lebih baik bila jika didasarkan atas analisis tingkat kepentingan situs-situs. Bagi mereka sebuah situs akan makin penting bila banyak pengguna dan situs lain yang merujuk pada situs tersebut. Hipotesis ini mereka wujudkan lewat PageRank System; sistem inilah yang nantinya menjadi rahasia utama kesuksesan kinerja Google.

Metodologi Google terangkum dalam empat tahap. Pertama, Crawling (penjelajahan); Google menggunakan robot penjelajah Googlebot untuk menjelajahi milyaran halaman yang eksis di internet. Penjelajahan bertujuan untuk mengumpulkan informasi dari banyak situs di internet. Setelah tahap ini selesai dilakukan, informasi hasil penjelajahan dipilah dalam proses Indexing, yang merupakan tahap kedua. Setiap halaman dipilah dan disusun berdasarkan tema dan topik ke dalam database raksasa.

Tahap ketiga adalah Processing. Di tahap ini sistem mengambil data dari indeks database mereka, sesuai dengan data yang diminta oleh pengguna. Data yang cocok kemudian akan ditampilkan ke mesin pencari. Ketika urutan hasil pencarian yang diinginkan pengguna telah ditampilkan, Google menganalisa situs mana yang dipilih pengguna, ini merupakan bagian dari tahap keempat Ranking. Pilihan pengguna ini nantinya akan diproses; situs mana yang sering dipilih, mana yang jarang dipilih, semua statistik tersebut dicatat Google. Statistik tersebut nantinya diproses melalui PageRank System sehingga situs-situs bisa diurutkan berdasarkan tingkat kepentingannya. Alhasil, pencarian Google bisa tetap akurat meski trend di masyarakat sudah berganti sekalipun.

Dengan berbagai terobosan yang dilakukannya, Google pun tumbuh menjadi perusahaan yang amat sukses. Dalam usia delapan tahun, perusahaan ini telah memiliki dana tunai $$ 8 miliar, dan kapitalisasi pasar lebih dari $$ 100 miliar. Dengan nilai kapital sebesar itu, Google bisa dikatakan lebih kaya dibandingkan kebanyakan negara-negara kecil.

Melihat arahnya, Google - yang jumlah karyawannya di seluruh dunia sekitar 4.000 orang -tidak akan berhenti di sini. Dan mengetahui bahwa perusahaan ini mengoperasikan sistem komputer paling besar di dunia-mesin pencarinya didukung oleh 100.000 PC dan secara konstan terus ditambah, dunia masih akan menyaksikan gebrakan-gebrakan baru. Antara lain, Google sedang menggeluti riset genetika (bekerja sama dengan biolog terkemuka Craig Venter). Jangan heran kalau lalu muncul istillah “Meng-Google gen”.

Nama Google sendiri berasal dari variasi dari kata ‘googol’, istilah yang merujuk pada angka satu yang diikuti seratus nol. Penggunaan istilah tersebut oleh Google merefleksikan misi perusahaan dalam mengorganisasi jumlah masif informasi yang tersedia di internet. Dengan keunggulan teknologi yang sangat dahsyat (yang terdiri dari 100 ribu komputer kelas satu yang sudah dimodifikasi untuk mencapai efisiensi maksimal), kantor pusat Google bernama Googleplex (yang didekor dengan desain warna-warni selayaknya taman kanak-kanak dan berbagai macam fasilitas hiburan - praktis menimbulkan suasana kondusif untuk berinovasi) dan kian meningkatnya kepercayaan pengguna internet akan khasiat Google, bisa dibilang Google telah memenuhi kebesaran namanya.

Referensi:

Hill, Brad. 2003. Google for Dummies. Canada : Wiley Publishing Inc.

Vise, David A. 2006. Kisah Sukses Google. Jakarta : Gramedia.

“Kesuksesan Google”. Diakses pada 22 Maret 2007. Terarsip di www.mail-archive.com/ftikumt2001

“Bagaimana mesin pencari bekerja”. Diakses pada 22 Maret 2007 . Terarsip do www.samramdhani.info/bagaimana-mesin-pencari-bekerja.html

10 Langkah Selamatkan Bumi dari Pemanasan Global


Tidak perlu ikut menjadi aktivis Greenpeace atau apapun itu demi menjadi seorang pecinta lingkungan.

Di saat pemanasan global kian menggila, polusi merajalela, cuaca tak beraturan seperti sekarang, memang selayaknya setiap orang menjadi pecinta lingkungan.

Bagaimana caranya? Mudah saja. Berikut LiveScience memberi 10 tips melindungi bumi dari kehancuran. Semuanya adalah cara-cara sederhana yang dapat kita mulai dari hari ini. Apa saja itu?

1. Gunakan bola lampu jenis flurosen alias Fluorescent Lights (CFLs).

Lampu ini memang lebih mahal ketimbang lampu bohlam biasa. Tapi daya tahannya 10 kali lipat lebih lama dan yang pasti lebih hemat energi. Ini bukan iklan. Studi membuktikan bila lampu CFL menyerap energi 75 persen lebih sedikit daripada nola lampu kuning terang benderang biasa. Dalam setahun CFL mampu mengurangi produksi karbon dioksida hingga 500 pon. Ini setara dengan polusi yang dihasilkan 17 mobil di jalan raya selama satu tahun!

2. Hemat listrik di rumah.

Petuah klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Justru kian lama petuah ini kian dibutuhkan realisasinya, bukan sekadar teori. Padamkan lampu di siang hari. Matikan AC saat ruangan tak dihuni. Asal tahu saja rata-rata setiap rumah menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lipat dari yang diproduksi sebuah mobil. Jadi jangan karena tidak mengeluarkan asap hitam dari knalpot mobil Anda maka Anda sudah merasa sebagai pahlawan lingkungan.

3. Jangan Gunakan plastik.

Sebisa mungkin hindari pemakaian plastik. Tas plastik memang banyak dipakai pasar swalayan maupun tradisional dalam mengemas belanjaan. Ada baiknya kita membawa tas kain atau kertas sendiri dari rumah dan menolak dengan halus tas plastik dari penjual. Mengapa? Plastik bukan bahan yang dapat hancur dengan sendirinya di pembuangan sampah. Sejumlah kandungan dalam bahan tersebut justru merusak kesuburan hayati tanah.

4. Maksimalkan penggunaan komputer.

Memang di era kini sudah jarang orang berkirim surat melalui pos. Tapi jangan salah, masih banyak perkantoran maupun pribadi yang lebih suka menyimpan dokumen atau surat-surat secara tradisional, yakni dengan dicetak di atas kertas. Memang ada beberapa surat berharga yang tak bias tergantikan dengan surat elektronik. Namun selama sebuah dokumen dapat disimpan secara elektronik di komputer, usahakan lakukan itu. Asal tahu saja, kertas yang kita pakai telah sukses menggunduli hutan akibat perusahaan kertas telah menebang pohon-pohon sebagai bahan dasarnya.

5. Beli produk lokal.

Hentikan membeli produk pangan impor. Dengan mengonsumsi apa yang ada di dekat kita, maka kita berperan dalam mengurangi polusi dan pemborosan energi. Mengapa harus mengimpor daging sapi dari Australia jika sapi lokal tak kalah lezatnya. Bayangkan berapa energi dihasbiskan dan polusi dihasilkan dari sekadar mendatangkan sosis Eropa atau keju Belanda ke meja makan Anda. Sebagai informasi, anggur dari Napa Valley harus mengarungi jarak sejauh 2.143 mil demi berada di pasar swalayan Chicago .

6. Praktikan prinsip 3 R

Reduce, Reuse, Recycle. Kurangi konsumsi, gunakan kembali barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan, dan daur ulang bahan tertentu. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak menjalankannya. Hanya sekali memulai, kita akan terbiasa.

7. Pelan-pelan singkirkan energi tak terbarukan.

Agak sulit memang jika tak didukung dengan ketersediaan produk dan infrastruktur. Tapi bukan berarti tak mungkin. Kalau ada pilihan dimana kita bias menikmati listrik dengan sumber sinar matahatri atau angin, mengapa tidak? Lebih bersih dan hemat energi.

8. Bunuh produk penghisap listrik

Tanpa disadari, kita terus menerus membeli dan mengngunakan produk yang menghamburkan energi. Televisi (TV) adalah salah satunya. Tanpa sadar sebuah keluarga kerap menyalakan TV tanpa henti 24 jam walau tidak ditonton. Begitu juga komputer, DVD player dan charger ponsel yang terus terhubung ke colokan listrik.

9. Kurangi pemakaian bahan kimia.

Bahan kimia bukanlah bahan alami. Seperti bahan buatan lainnya, bahan ini tak dapat lebur dengan sendirinya dan meninggalkan efek buruk pada kehidupan. Pestisida, obat nyamuk dan sejumlah bahan pembersih ruangan mengandung aneka komponen kimia yang tanpa sadar ikut kita hirup seumur hidup kita. Bahkan pangan sayur dan buah pun ikut membawanya ke dalam tubuh kita. Cara mengatasinya? Maksimalkan konsumsi bahan-bahan alami, termasuk sayuran organik.

10. Hijaukan rumah Anda!

Banyak di antara kita yang mengaku cinta lingkungan, cinta penghijauan, namun faktanya nyaris tak pernah menanam apapun di halaman rumahnya. Oke jika Anda tak punya halaman rumah. Setidaknya usahakan Anda memberi kesempatan bagi tumbuhan untuk hidup di sekitar. Tanaman gantung atau hidroponik cukup membantu bagi Anda yang tinggal di apartemen, rumah susun atau kos.