profil


Agus Supratman di lahirkan di Bandung, 25 september 1982 dari pasangan Suarna dan sutarsih

sejak umur 2 tahun agus supratman hanya hidup dan dibesarkan oleh seorang Ibu karena sosok ayah yang telah pulang ke rahmatullah dengan cepat sekali karena sakit, sosok Ibu lah yang telah memberikan Inspirasi begitu kuat sekali dalam menjalani hidup, seorang Ibu yang mempunyai kekuatan mental dan tenaga untuk membesarkan anak-anaknya. Agus supratman menuai pendidikan di Sekolah SD di SDN Rancakasumba I kemudian dilanjutkan ke SMPN 2 Ciparay dan SMAN I Majalaya, dan menempuh perguruan tinggi di tenik Informatika STTIS serta mengikuti banyak kursus seperti Puslikom teknik hardware, Yulia College, IKMA.  agus supratman aktif dalam membina olahraga bolas basket di SMAN I MJALAYA, sehingga menjadi sebuah tim yang diperhitungkan, pekerjaan sekatang adalah sebagai Internet Programming, WebDesign, IT Consultant, hardware Specialist agus supratman mempunya unit usaha sebagai media bisnis yaitu Rocketnet media (warnet & Multimedia), Rock Cube ( percetakan & graphic Design) - kiwari sports sebagai konsultan prestasi & management olahraga.

aktivitas agus supratman

- Pendiri komunitas Linux Ubuntu 26
- Pendiri Komunitas Cinta linkungan "Bumi Hijau"
- Internet Consultant
- Pendiri PKS Fans Club

contact agus supratman
Jonesmod@yahoo.com
agus.supratman@gmail.com
agusjonet.multiply.com

facebook: agus.supratman@gmail.com

tagged : jonet@telkom.net.id


agussupratman.co.nr

Mau Udara Jakarta Bebas Polusi, Biodiesel Solusinya

Asap hitam yang mengepul dari knalpot metromini maupun kendaraan lain, pasti mengganggu kenyamanan berkendara ditambah lagi kemacetan jalanan yang makin membuat kita pusing.

Tapi, jangan khawatir! Masalah emisi berbahaya kendaraan bermotor kini dapat dihindari, dengan cara mengganti pemakaian solar ke biodiesel. Demikian diutarakan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bagian Sistem Engineering, Ir. Soni Solistia Wirawan, M.Eng, di sela acara sosialisasi pemanfaatan minyak goreng bekas di Gedung Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi, Serpong, Kamis (27/11).

"Kendaraan yang memakai biodiesel yang berasal dari minyak kelapa sawit seratus persen, pasti tidak mengeluarkan asap hitam seperti kendaraan yang memakai solar. Karena set-an number biodiesel minimal 51, lebih tinggi dari solar yang hanya 48," jelasnya.

Soni mengatakan, dalam pengujian emisi, biodisel juga lebih unggul daripada solar. Katanya, biodiesel kadar karbon dioksidanya 50 persen lebih rendah daripada solar. "Dengan begitu, asap hitam bisa turun sampai 80 persen, dan partikel akan turun 30 persen dibanding solar," lanjutnya.

Meski demikian, untuk ukuran keiritan pemakaian biodiesel, kata Soni, masih sama dengan solar, malahan bila dipakai untuk genset biodiesel lebih boros tiga samapai empat persen dibanding solar. "Tapi biodiesel kan ramah lingkungan," tutur Soni singkat.

Sellaband: ketika band anda memerlukan Biaya

ANDA seorang musisi baru dan tidak punya dana untuk melakukan rekaman di studio secara profesional? Jangan kuatir. Anda bisa bergabung ke situs Sellaband (www.sellaband.com), mengumpulkan dana di situ, lalu melakukan proses rekaman layaknya musisi profesional.

Ya, inilah salah satu terobosan dalam industri musik di era New Wave Marketing ini. Fans Anda di seluruh dunia bisa ikut mendanai proyek rekaman Anda. Sebaliknya, kalau Anda yang jadi fans musisi yang ada di Sellaband, Anda pun bisa ikut mendanai proyeknya, walaupun tidak kenal musisi tersebut.

Model bisnis Sellaband ini memang unik. Situs musik yang diluncurkan di Bocholt, Jerman oleh Johan Vosmeijer, Pim Betist, dan Dagmar Heijmans pada Agustus 2006 ini melibatkan para fans secara aktif untuk mendukung musisi yang digemarinya sejak awal proses rekaman.

Mekanismenya sebagai berikut. Kalau Anda adalah musisi yang memerlukan dana, Anda harus membuka account di Sellaband dan meng-upload beberapa contoh lagu. Sellaband lalu akan memperlakukan Anda layaknya sebuah perusahaan yang akan melakukan IPO. Jadi, Sellaband akan menerbitkan semacam saham. “Saham” ini dalam istilah Sellaband disebut “Parts”. Jumlahnya untuk tiap musisi sebesar 5000 parts dan nilainya sebesar 10 dollar AS per parts. Sementara itu, kalau jadi fans, Anda juga harus membuka account di Sellaband. Fans ini disebut sebagai “Believers”. Anda bisa mendukung satu musisi atau beberapa musisi sekaligus dengan membeli parts tadi, berapa pun jumlahnya terserah.

Nah, setelah musisi itu mengumpulkan 5000 parts alias telah berhasil mengumpulkan dana sebesar 50 ribu dollar AS, Sellaband lalu akan mengatur agar musisi tersebut mulai melakukan proses rekaman secara profesional. Sellaband akan menyediakan studio, produser, dan A&R profesional untuk merekam album mereka sampai jadi. Musik mereka ini akan diluncurkan dalam bentuk CD edisi terbatas (sebanyak 5000 buah), CD edisi regular, dan dalam format digital download.

Believers sendiri akan mendapatkan masing-masing satu CD edisi terbatas untuk setiap part yang dimilikinya. Believers bisa mengambil CD ini, bisa juga menjualnya kepada orang lain. Penjualannya bisa dilakukan melalui situs Sellaband atau melalui pihak ketiga lainnya. Nilai penjualannya sendiri bisa di atas nilai satu parts tadi alias di atas 10 dollar AS per buah.

Unik, bukan? Semua pihak diuntungkan di sini. Musisi akan mendapatkan dana untuk proyek rekaman. Setelah CD keluar, tentu musisi ini juga akan memperoleh bagian dari penjualan CD edisi reguler, digital download, atau dari konser-konser. Believers juga akan mendapatkan bagian sebagai “pemegang saham”. Sementara pihak Sellaband sendiri juga akan mendapatkan bagian dari hasil penjualan CD tadi serta dari sejumlah komisi atau biaya transaksi yang terjadi.

Saat ini tercatat ada sekitar 8600 musisi yang terdaftar di Sellaband. Sebanyak 27 musisi telah berhasil mengumpulkan 50 ribu dollar AS dan telah atau sedang menjalani proses rekaman. Mereka ini berasal dari berbagai negara seperti Belanda, Perancis, Inggris, Jepang, Argentina, Australia, dan lain-lain. Dari Indonesia sendiri saya lihat ada 14 musisi, namun belum ada yang mencapai 50 ribu dollar AS. Yang tertinggi adalah Saharadja dari Bali, yang baru berhasil menjual parts sebanyak 13 unit alias mengumpulkan dana sebesar 130 dollar AS.

Nah, kasus Sellaband ini menunjukkan terjadinya Communal Activation sebagai saluran distribusi di era New Wave Marketing. Komunitas penggemar yang ada dimanfaatkan bukan hanya sebagai pelanggan, namun juga untuk menyebarluaskan musik yang telah dibuat. Di sini juga terjadi proses Co-Creation antara produsen (musisi) dan pelanggan (fans). Pelanggan dilibatkan sejak awal proses “produksi” sehingga bisa memiliki sense of ownership, bukan hanya sense of belonging.
Believers tentu akan berupaya agar musisi yang didukungnya bisa sukses. Karena, layaknya pemegang saham, Believers akan mendapatkan bagian dari hasil keuntungan yang didapat musisi tersebut nantinya. Dengan dana yang relatif kecil, cukup dimulai dengan 10 dollar AS tadi, seorang Believers bisa meraih keuntungan yang tidak sedikit. Bagi musisi sendiri, ia tidak perlu repot-repot mencari dana atau mengeluarkan dana dari kantongnya sendiri. Walaupun demikian, musisi ini bisa menghasilkan sebuah karya yang bisa dibilang relatif sama dengan karya para musisi profesional.


Inilah praktik low-budget high-impact marketing. New Wave Marketer memang harus terus berupaya mencari cara-cara kreatif seperti ini agar bisa sukses. Melakukan Communal Activation sebagai sebuah saluran distribusi merupakan salah satu cara yang bisa ditempuh.

-- Ringkasan tulisan ini bisa dibaca di Harian Kompas --