Inspirasi#1

Mengejar Mimpi ke Tanah Arab

Oleh : Lisa Noor Humaidah

(Pemerhati Persoalan Perempuan)

Namanya Rini Kasmiati, berparas manis berusia 20 tahun. Ia anak perempuan satu-satunya dari 4 bersaudara, lahir dari Ibu yang menikah siri dengan ayahnya, seorang pegawai negeri sipil dan telah beristri. Mereka tinggal di rumah kecil berukuran 2x5 meter di tengah kota sepi, di Pati, Jawa Tengah. Di rumah berdinding anyaman bambu itu ditinggali Rini, Ibu dan 1 kakak laki-laki, yang lainnya pergi merantau mengadu nasib. Sang ayah telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

Kemiskinan telah melingkari sejak sang ibu memutuskan menikah sirri dengan ayahnya. Rumah yang sekarang ditinggali pun merupakan sokongan dari aparat desa setempat setelah mereka pindah dari kota kabupaten tetangga, Jepara. Tambahan ubin dan juga dinding bersemen yang setengah atasnya masih berupa anyaman bambu, yang terlihat baru saja selesai dipasang merupakan sumbangan dari program pembangunan perkotaan yang disepakati oleh warga di Kelurahan mereka tinggal. Rumah Rini adalah salah satu sasaran untuk perbaikan.

Penyebab kemiskinan mereka bisa jadi lebih kompleks. Namun sementara yang saya lihat, menikah sirri dan poligami itu telah menyebabkan distribusi penghasilan sang ayah tak sepenuhnya mencukupi. Walaupun sang Ibu berdagang di pasar, hasilnya tak seberapa. Ibunya pun tak bisa menikmati pensiun si Ayah karena status istri 'illegal' yang disandangnya. Semuanya adalah hak legal istri pertama. Rini juga tak sampai menyelesaikan pendidikan tingkat pertamanya/SMP. Ia akhirnya bekerja. Mulai dari menjadi buruh di sebuah perusahaan kayu ukir Jepara sampai menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT) di keluarga keturunan Arab di kota dimana sekarang ia tinggal. Setelah 2 tahun bekerja full time dan tinggal di rumah majikannya ia memutuskan untuk keluar karena selisih paham dengan kawan yang bekerja sebagai baby sitter di rumah majikannya tersebut. Disamping karena ia ingin lebih punya banyak waktu menemani ibunya yang mulai sakit-sakitan. Akhirnya ia bekerja di rumah keluarga kami.

Cara bekerjanya professional. Pagi datang pukul 07.00 WIB, pulang kembali ke rumah sore hari, pukul 16.00 WIB. Ia mengerjakan seluruh pekerjaan rumah. Ibu saya memberi petunjuk satu kali, seterusnya ia bekerja dengan inisiatif sendiri dengan hasil memuaskan. Pribadinya sopan, ramah dan terbuka. Tak pernah ada keluhan atas kesulitan hidupnya, semuanya diceritakan dengan apa adanya dengan senyum penuh keikhlasan di bibirnya. Kecerdasannya terpancar dari caranya bertutur yang terdengar dewasa melebihi dari umurnya. Keinginan belajarnya tinggi terlihat dari kesempatan yang tak pernah dilewatkan untuk membaca terutama koran yang tersedia di rumah. Bahkan 2 novel: Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta lahap dibacanya dalam waktu singkat sambil menunggu toko di rumah kami. Kami memikirkan sejumlah rencana untuknya, salah satunya untuk memberi tambahan kursus untuk keahlian tertentu atau mengikutsertakannya dalam ujian persamaan sekolah tingkat pertama dan tingkat atas.

Rencana itu tinggal-lah rencana. Rini memutuskan untuk mengubah nasibnya dengan menjadi tenaga kerja ke luar negeri di tanah Arab sana, tepatnya Saudi Arabia. Tentu tidak ada yang salah karena itu adalah haknya, namun kami seperti menyesalkan mengapa ia dengan segala potensinya? Pergi jauh dari rumah apalagi lintas negara mungkin bisa menjadi alat untuk keluar dari pusaran 'kemandegan', memberi stimulus untuk kemajuannya di masa yang akan datang.

Rasa menyesalkan yang datang itu lebih pada potensi ketidakamanan yang tiba-tiba lebih kuat muncul daripada potensi untuk maju tadi. Begitu juga yang dikhawatirkan oleh Ibu Rini dan tetangga dekatnya dengan keputusannya untuk pergi itu. Yang kuat muncul adalah kekhawatiran penuh prasangka tentang citra orang Arab yang masih percaya bahwa pekerja di dalam rumahnya (khadam) berhak diperlakukan sebagai budak/amat. Artinya majikan sangat berpotensi untuk memperlakukannya dengan sesuka hati.

Tentu tidak bermaksud menggeneralisir, namun harus diakui banyak kasus kekerasan terhadap buruh migran Indonesia terutama di Saudi Arabia tak bisa diproses lebih lanjut karena situasi sosial budaya yang sangat tertutup: perempuan masih tidak diperkenankan keluar rumah, dan tembok rumah yang tinggi dengan pintu rapat terkunci, gerak langkah begitu terbatas. Sudah banyak cerita kita dengar soal ini. Sampai saat ini kemajuan belum berarti untuk memberi jaminan perlindungan untuk tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia salah satunya dengan menyediakan Memorandum of Understanding (MoU) antar negara. Namun tentu saja keinginan untuk terus melakukan perbaikan oleh pemerintah kita terdengar terus ada upayanya.

Dengan kenyataan yang sering terdengar berat, tetap saja banyak tenaga kerja perempuan kita berbondong-bondong datang ke tanah harapan di beberapa negara Arab salah satunya Saudi Arabia. Analisis yang paling sederhana adalah karena kedekatan hubungan emosional dan kesejarahan yang lama telah terbangun. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak, hubungan Indonesia dan Timur Tengah terutama Saudi Arabia tidak hanya diikat oleh ikatan budaya dan agama namun juga politik ekonomi. Fenomena berbondong-bondongnya jamaah Indonesia setiap tahunnya untuk beribadah haji merupakan salah satu wujudnya. Perputaran roda ekonomi berkembang dengan tumbuhnya agen-agen perjalanan yang memicu tumbuhnya potensi ekonomi yang lain. Ditambah kemudian ketika harga minyak meninggi pada tahun 1970-an.

Timur Tengah terutama Saudi Arabia menjadi ladang dan tanah yang menjanjikan bagi perbaikan kehidupan. Ia seperti titik epicentrum yang sangat berpengaruh bagi negara-negara di sekitarnya bukan hanya ekonomi tapi juga politik. Dengan demand yang begitu besar, tenaga kerja banyak dibutuhkan terutama untuk sektor rumah tangga. Mereka mengundang dan mencari tenaga kerja dari luar negeri salah satunya Asia, lebih sempit lagi Indonesia. Terbukalah kesempatan bermigrasi itu.

Sejenak menengok ke belakang, sejarah telah menceritakan hubungan Indonesia dan Timur Tengah ditandai dengan penyebaran agama Islam oleh orang Arab melalui jalur perdagangan. Penyebaran agama Islam juga dilakukan oleh tokoh ulama Indonesia yang bermigrasi ke pusat-pusat pengetahuan dan keilmuan di Timur Tengah (terutama Mekkah dan Madinah) untuk menuntut ilmu. Bahkan pada abad 17 muncul komunitas di Haramayn (Mekkah dan Madinah) yang oleh sumber-sumber Arab disebut Ashhab Al-Jawiyyah (saudara kita orang Jawi). Istilah "Jawi" walaupun berasal dari kata "Jawa", merujuk kepada setiap orang yang berasal dari Melayu Indonesia. (Azyumardi Azra, 2004). Hubungan ini kemudian terus hidup sampai sekarang kuat berpengaruh pada kehidupan sehari-hari masyarakat, menyebar dalam bentuk budaya, kesenian, sastra, bangunan, nilai kehidupan, dst.

Intinya saya hanya bisa berharap hubungan kesejarahan ini akan banyak membantu Rini melempangkan jalan untuk perbaikan nasibnya. Mungkin terdengar berlebihan dan sangat sulit menterjemahkan dalam prakteknya. Tapi memang ia telah menjual segalanya untuk mengupayakan pencapaian cita-citanya itu, bahkan sepeda jengki (sebutan dalam bahasa Jawa sepeda untuk orang dewasa) yang setiap hari dipakai untuk menuju rumah kami juga telah dijualnya sebagai uang saku selama ditampung di Jakarta. Sepeda itu hanya laku Rp 150 ribu. Ia meyakinkan pada Ibunya dan kami, dia akan baik-baik saja karena akan ikut ke rumah saudara majikan dimana ia sebelumnya bekerja. Hubungan mereka selama ini sangat baik, bahkan Rini seperti telah menjadi bagian dari keluarga itu. Ibu Rini hanya bisa berurai air mata ketika menyadari ia tidak akan bertemu Rini dalam hitungan tahun tak hanya bulan apalagi minggu. Ia hanya minta didoakan selalu sehat, kuat dan selamat.

Ah, seandainya para majikan lebih banyak tahu bahwa telah banyak hal dikorbankan dan dipertaruhkan untuk mereka yang bekerja jauh ke negeri yang masih asing, mungkin hubungan majikan dan pekerjanya akan lebih manis semanis hubungan kesejarahan untuk membangun sebuah peradaban. Peradaban yang bertujuan untuk lebih memanusiakan. Waallohu a'lam.

0 komentar: