Perempuan Berkalung sorban

Film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu diangkat dari novel karya Abidah El Khalieqy yang lahir di Jombang, 1 Maret 1965, dikenal sebagai sastrawan produktif. Mantan santri ini menulis puisi, cerpen, dan novel. Novelnya Geni Jora memenangkan juara dua sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2003. Perempuan Berkalung Sorban adalah novelnya yang terbit pada tahun 2000.

Film ini bercerita tentang Annisa (Revalina S. Temat) yang "nakal" terhadap tradisi pesantren. Annisa berjuang untuk keluar dari "kungkungan" pesantren, tempat dia dilahirkan dan dididik dengan ilmu-ilmu agama. Pesantern Salafiyah al-Huda di Jawa Timur ini di bawah asuhan Kiai Hanan (Joshua Pandelaky), yang "konservatif".

Kiai Hanan sebagai Kiai sekaligus bapak Annisa, mempunyai prinsip laki-laki tidak boleh menjadi pemimpin. Ini terbukti ketika Annisa duduk di Madrasah Ibtidaiyah (SD), dia terpilih menjadi ketua kelas dengan perbedaan suara tipis dengan anak laki-laki. Tapi guru kelasnya langsung menunjuk pemenang kedua, sebab dia laki-laki, dan keputusan ini didukung Kiai, bahkan Annisa akhirnya dihukum, karena walk-out. Demikian juga, larangan naik kuda bagi perempuan, sedangkan, kata Annisa, Aisyah, putri Rasulullah pun bisa menunggang kuda. Pendidikan juga diutamakan pada saudara laki-laki annisa, dengan menyekolahkannya ke Mesir, dengan cara menjual beberapa bidang tanah.

Urusan menikahpun, Annisa tidak bisa berbuat banyak. Dia harus menikah dengan lelaki pilihan Ayahnya, Samsudin (Reza Rahadian), seorang anak kiai Salaf, pesantren besar, yang banyak menyumbang dana untuk kemajuan pesantren al-Huda. Dengan pernikahan ini, justru Annisa makin terpuruk sebagai ibu rumah tangga, dan kekerasan yang menghantui hidupanya sehari-hari. Sedangkan Annisa sendiri sebenarnya suka dengan paklik Khudori (Oka Antara) nya dari keluarga ibunya, yang akhirnya meninggalkannya kuliah di Mesir. Di sini keterpurukan Annisa semakin dalam.

Annisa tidak diam oleh keadaan. Dia memberontak, melakukan perlawanan sebagai perempuan. Dia meninggalkan lingkungan pesantren Suaminya, dan pergi ke Jogjakarta, untuk kuliah dan melanjutkan hobinya menulis. Dia pun aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM) hukum, yang mengadvokasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Peran ibu Annisa (Widyawati) yang selalu diam, tapi menyimpan kebaikan-kebaikan. Dia menunjukkan peran ibu yang mengayomi semua anaknya, selalu mengerti apa yang dilakukan anak-anaknya, sosok ibu yang baik.

Melawan hegemoni laki-laki

Latar belakang pesantren, Perempuan berkalung Sorban, berusaha mengritik hegemoni laki-laki, yang tentu saja, bukan hanya di pesantren. Film ini berusaha mengoreksi pemahaman sempit paraa penafsir agama bahwa perempuan tidak berhak menjadi subyek yang merdeka, dan harus dituntun oleh laki-laki. Walau pun terkadang laki-laki tidak bisa menuntun, bahkan bisa menjerumuskan.

Jika dibandingkan dengan beberapa filem yang diambil dari naskah sinetron yang berkaitan hubungan laki-laki dan perempuan, misalnya "suami-suami takut Istri", yang benar-benar membalikkan fakta, bahwa ada juga perempuan di dunia metropolis, juga bisa berbalik menghegemoni laki-laki. Demikian juga sebaliknya, terkadang film dan sinetron banyak menyajikan hegemoni tanpa ampun dan perempuan betul-betul berada di pihak yang lemah. Perempuan dikesankan sebagai makhluk lemah yang terpaksa menerima apa pun terhadapnya. Namun, film ini, menyajikan dengan adil, pergulatan hegemoni itu dengan kemasan cerita yang menarik dan pengambilan gambar yang indah.

Kritik terhadap Dogma

"Siapa yang merasa tidak berdosa, silahkan merajam", adalah satu dialog Ibu Annisa, ketika Annisa dan Khudori, dituduh berbuat zina, padahal mereka hanya ngobrol sebentar di belakang pesantren. Kalimat itu bukan pembelaan, tapi sebuah kata yang kuat untuk menggambarkan bahwa pelaksanaan dogma hukuman rajam, bagi Ibu Annisa, harus imbang dan yang melakukan hukuman harus benar-benar bersih dari dosa, apakah bisa hukuman itu dilakukan, kalau semua manusia memang berdosa.

Demikian juga kisah perjodohan yang mengulang klise Siti Nurbaya. Walau terlihat bahwa hal ini menjadi eksotik karena kejadian itu berlangsung di dunia pesantren. Ini sesuatu yang jarang diangkat ke dalam dunia kisah maupun layar sinema.

Tokoh dalam film ini memang mewakili generasi perempuan cerdas, kritis, dan punya impian besar. Sikap semacam ini bukan tanpa dilema. Ia dihadapkan pada persoalan antara memperjuangkan keterbukaan, semangat untuk maju, dan cap membangkang pada agama--meskipun sebetulnya yang didobrak adalah tafsir agama, bukan agama itu sendiri.

Walau demikian, film ini memang layak untuk ditonton. Banyak kritik khususnya durasi waktu yang panjang, sehingga agak melelahkan. Walau dialog-dialognya memang ditulis sendiri oleh Hanung dan Ginatri S. Noor, dari satu novel panjang yang mempunyai rentang waktu bertahun-tahun. Dengan pemilihan pemain yang bisa total memerankan tokoh di dalamnya, film ini memang Indah. (sjd/adangdaradjatun.com)

Film: Perempuan Berkalung Sorban

Jenis Film: Drama
Sutradara: Hanung Bramantyo
Penulis naskah: Hanung Bramantyo, Ginatri S. Noor
Novel: Abidah El Khalieqy
Pemain: Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Ida Leman
Produksi: Starvision

0 komentar: